Safetyclopedia
Pertolongan Pertama pada Kecelakaan Listrik
Menurut kalian, apa yang harus kita lakukan kalau ada rekan kerja yang tiba-tiba tersengat listrik saat bekerja? Nah, bener banget! Salah satu hal penting yang perlu dilakukan adalah memberikan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)
5 min read

Halo, Sobat Safety!
Menurut kalian, apa yang harus kita lakukan kalau ada rekan kerja yang tiba-tiba tersengat listrik saat bekerja? Nah, bener banget! Salah satu hal penting yang perlu dilakukan adalah memberikan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) dan memahami potensi kecelakaan K3 listrik sebagai kunci utama untuk menyelamatkan nyawa serta mencegah risiko cedera yang lebih parah. Bahaya listrik sering kali tidak terlihat, sehingga sedikit saja kelalaian saat berinteraksi dengan instalasi atau peralatan bertegangan dapat berakibat fatal. Untuk mencegah dan menanganinya dengan tepat, yuk pahami bagaimana bahaya sengatan listrik bisa terjadi berikut ini.
Listrik sudah menjadi bagian sehari-hari dari kehidupan manusia, mulai dari mengisi daya ponsel, menyalakan lampu, hingga menggunakan peralatan elektronik lainnya. Namun di balik itu, listrik juga memiliki risiko yang tidak dapat dianggap remeh. Sengatan listrik dapat terjadi ketika arus listrik melewati tubuh (Winjaya et al. 2022). Seseorang tidak harus menyentuh kabel atau bagian lain yang terlihat beraliran listrik untuk mengalami tersengat listrik. Berdasarkan cara terjadinya kontak sengatan listrik dibedakan menjadi 2 macam:
Sentuhan langsung
Sentuhan langsung merupakan kondisi ketika bagian tubuh menyentuh secara langsung bagian yang memiliki tegangan listrik. Tubuh bertemu langsung dengan sumber listrik, sehingga arus listrik dapat mengalir melewatinya.
Sebagai contoh yakni bersentuhan dengan kabel yang terkelupas, terminal listrik yang terbuka atau pun bagian instalasi listrik yang masih bertegangan. Kondisi ini dapat menyebabkan tubuh mengalami sengatan karena arus listrik menemukan jalur untuk mengalir.
Sentuhan Tidak Langsung
Sentuhan tidak langsung adalah kondisi saat seseorang menyentuh bagian peralatan yang tidak seharusnya bertegangan, namun menjadi bertegangan karena adanya gangguan listrik. Kondisi ini dapat terjadi pada peralatan yang terbuat dari logam. Contohnya, kerusakan pada isolasi di dalam sebuah alat elektronik dapat menyebabkan arus bocor ke bagian logamnya. Ketika bagian tersebut disentuh, arus dapat mengalir melalui tubuh dan menimbulkan sengatan listrik yang masih bertegangan. Kondisi ini dapat menyebabkan tubuh mengalami sengatan karena arus listrik menemukan jalur untuk mengalir.
Jenis-Jenis Cedera Akibat Sengatan Listrik
Kecelakaan listrik tidak hanya menyebabkan luka pada kulit, tetapi juga dapat memengaruhi otot, saraf, jantung, sistem pernapasan, hingga menyebabkan korban terjatuh. Tingkat keparahan cedera dipengaruhi oleh besarnya arus, lama kontak, jalur arus melalui tubuh, serta kondisi lingkungan. Berikut merupakan beberapa jenis cedera yang dapat diakibatkan oleh sengatan listrik:
Sengatan listrik (Electric Shock)
Sengatan listrik terjadi ketika arus listrik mengalir melalui tubuh. Dampaknya dapat berupa kesemutan, nyeri, kontraksi otot, kehilangan kesadaran, gangguan irama jantung, gangguan pernapasan, hingga kematian. Risiko menjadi lebih besar apabila arus melewati bagian tubuh yang berhubungan dengan jantung atau sistem saraf.
Luka bakar akibat listrik
Luka bakar dapat terjadi pada titik masuk dan keluar arus maupun jaringan yang dilalui listrik. Kerusakan jaringan di dalam tubuh terkadang lebih parah daripada luka yang terlihat pada kulit. Luka bakar juga dapat disebabkan oleh pakaian atau benda yang terbakar akibat kecelakaan listrik.
Cedera akibat busur listrik (Arc Flash/Arc Blast)
Busur listrik terjadi ketika listrik melompat melalui udara dan menghasilkan panas, cahaya, suara, serta tekanan yang tinggi. Kondisi ini dapat menyebabkan luka bakar, gangguan penglihatan dan pendengaran, serta cedera akibat ledakan atau benda yang terpental.
Cedera akibat kontraksi otot
Arus listrik dapat menyebabkan otot berkontraksi secara tidak terkendali sehingga korban kesulitan melepaskan diri dari sumber listrik. Kontak yang berlangsung lebih lama dapat meningkatkan tingkat keparahan cedera dan berisiko menyebabkan gangguan jantung maupun pernapasan.
Cedera akibat terjatuh
Korban dapat kehilangan keseimbangan, mengalami kejang otot, atau kehilangan kesadaran sehingga terjatuh, terutama ketika bekerja di tempat tinggi. Cedera yang ditimbulkan dapat berupa memar, luka terbuka, keseleo, patah tulang, cedera kepala, hingga cedera tulang belakang.
Gangguan jantung dan pernapasan
Sengatan listrik yang berat dapat mengganggu fungsi jantung dan menyebabkan gangguan irama jantung hingga henti jantung. Arus listrik juga dapat mengganggu otot pernapasan sehingga korban mengalami kesulitan bernapas atau berhenti bernapas. Kondisi ini merupakan keadaan darurat yang membutuhkan pertolongan segera.
Kematian akibat listrik (Electrocution)
Electrocution merupakan kondisi ketika paparan listrik menyebabkan kematian, terutama akibat gangguan serius pada jantung atau sistem pernapasan. Kondisi korban tidak selalu dapat dinilai dari luka yang terlihat karena arus listrik juga dapat menyebabkan kerusakan jaringan bagian dalam.
Secara umum, cedera akibat sengatan listrik memiliki tingkat keparahan yang beragam, mulai dari kontraksi otot, luka bakar serius, gangguan fungsi jantung dan pernapasan, cedera akibat terjatuh, bahkan kematian. Kerusakan jaringan di dalam tubuh juga tidak selalu tampak dari luar. Oleh karena itu, korban sengatan listrik perlu memperoleh pertolongan dan pemeriksaan medis yang sesuai untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Dampak Sengatan Listrik pada Tubuh Manusia
Dampak arus listrik pada tubuh manusia sangat bergantung pada besaran ampere, durasi kontak, dan jalur aliran listrik saat melewati tubuh. Mengingat tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air, tubuh kita bertindak sebagai konduktor listrik yang sangat baik. Berdasarkan pedoman keselamatan dari OSHA (Occupational Safety and Health Administration) dan standar internasional IEC 60479-1 (Effects of current on human beings and livestock), dampak sengatan listrik pada tubuh dapat diklasifikasikan berdasarkan besaran arusnya (dalam miliampere/mA) sebagai berikut:
1 mA (Batas Persepsi)
Arus mulai terasa di kulit, biasanya berupa sensasi kesemutan ringan. Pada tahap ini belum membahayakan secara fisik, namun bisa memicu gerakan refleks yang berisiko menyebabkan kecelakaan sekunder, seperti terjatuh dari tangga.
5 mA (Batas Kejut Maksimal)
Terasa kejutan ringan yang mengganggu, tetapi kebanyakan orang masih sadar dan memiliki kendali otot penuh untuk melepaskan diri dari sumber listrik.
6-30 mA (Batas Pelepasan/Let-Go Threshold)
Otot mulai mengalami kontraksi hebat atau kram sehingga korban kehilangan kendali motorik sarafnya. Akibatnya, korban tidak bisa melepaskan genggaman tangannya dari sumber listrik karena otot yang kaku.
50-150 mA (Gangguan Pernapasan/Respiratory Arrest)
Rasa sakit semakin ekstrem dan kontraksi otot menjalar hingga ke area dada. Paru-paru tertekan sehingga korban tidak bisa bernapas. Jika paparan tidak segera dihentikan, korban bisa meninggal akibat gagal napas.
1.000-4.300 mA/1 - 4,3 Ampere (Fibrilasi Ventrikel)
Arus listrik pada tingkat ini akan mengacaukan ritme detak jantung. Jantung kehilangan kemampuannya untuk berdetak normal dan hanya bergetar (fibrilasi), sehingga gagal memompa darah ke seluruh tubuh. Kondisi ini sangat fatal dan sering kali berujung pada kematian jika tidak segera mendapatkan pertolongan medis (RJP/CPR).
10.000 mA/10 Ampere (Henti Jantung & Luka Bakar Berat)
Jantung mengalami henti total (cardiac arrest) dan suhu panas dari arus listrik menyebabkan luka bakar yang parah pada jaringan organ dalam.
Prosedur Memutus Sumber Listrik secara Aman
Nah… karena tadi udah di bahas mengenai beberapa jenis cedera, ngeri juga ya Sobat Safety dampak dari sengatan listrik jika terkena pada manusia manusia. Untuk mencegah hal tersebut menjadi semakin parah, maka diperlukan SOP terkait pemutusan sumber listrik secara aman agar tidak menimbulkan kecelakaan. Menurut EN 50110-1 Bagian 6.2 tentang 5 langkah Keselamatan menjelaskan SOP pemutusan sumber listrik sebagai berikut:
Pastikan menurunkan saklar pemutus utama (Main Circuit Breaker) bukan hanya menurunkan MCB.
Lakukan LOTO (Lock Out Tag Out) yaitu mengunci panel listrik dan memberikan tanda bahwa panel sedang dalam perbaikan untuk memastikan tidak ada yang menyalakan sumber listrik kecuali yang melakukan LOTO.
Melakukan pengecekan bahwa tegangan listrik sudah tiada dengan multimeter atau tespen pada semua konduktor aktif: antar-fase, fase ke netral, serta fase ke tanah (arde). Gunakan tespen untuk menyentuhkan ujung alat tes ke kabel atau lubang stop kontak yang ingin dibongkar.
Buang sisa aliran listrik ke bumi (grounding) dengan cara sebelum membongkar alat, diamkan dulu selama 5-10 menit setelah listrik dimatikan agar sisa aliran listrik habis dengan sendirinya.
Pasang proteksi terhadap bagian bertegangan di sekitar dengan isolasi khusus (insulating mats/shrouds) agar tidak tersenggol dan menimbulkan bahaya yang lainnya.
Langkah Pertama Pertolongan pada Korban Sengatan Listrik
Sengatan listrik merupakan kondisi darurat yang memerlukan penanganan segera dan tepat untuk mengurangi risiko cedera lebih lanjut pada korban. Oleh karena itu, pertolongan pertama perlu dilakukan secara sistematis dengan tetap memperhatikan keselamatan penolong. Berikut adalah langkah-langkah pertolongan pertama yang dapat dilakukan untuk menangani korban sengatan listrik.
Amankan Diri dan Lokasi
Periksa lingkungan sekitar, pastikan tidak ada genangan air atau bahaya lain yang dialiri listrik.
Putus Aliran Listrik
Matikan sumber listrik melalui saklar utama, sekering, atau cabut kabel dari stopkontak. Jika aliran listrik tidak bisa dimatikan, dorong atau jauhkan korban dari sumber listrik menggunakan benda yang tidak menghantarkan listrik (isolator) dan kering, seperti kayu, pipa PVC, atau sapu. Jangan gunakan benda berbahan logam atau basah.
Segera Hubungi Bantuan Medis
Segera telepon layanan darurat (112 atau 118/119) atau minta orang sekitar untuk memanggil bantuan medis.
Cek Respon dan Pernapasan Korban
Setelah korban aman dari aliran listrik, periksa kesadaran dan pernapasannya. Jika korban tidak bernapas atau tidak ada denyut nadi, lakukan resusitasi jantung paru (RJP/CPR) jika Sobat Safety terlatih.
Penanganan Luka dan Posisikan Korban
Jika korban sadar, baringkan dalam posisi nyaman dan jaga tubuhnya tetap hangat. Tutup luka bakar akibat sengatan listrik dengan kain bersih atau kasa steril. Jangan mengoleskan salep, minyak, atau es batu pada luka bakar.
Peran Kesiapsiagaan dan Pelatihan P3K dalam Mencegah Fatalitas
Pelatihan P3K membekali masyarakat awam dengan kemampuan Bantuan Hidup Dasar (BHD), seperti Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR). Tindakan yang cepat dan tepat pada saat-saat kritis setelah terjadinya kecelakaan sangat penting dalam mempertahankan kehidupan korban hingga bantuan dari tim medis datang. Penanganan cedera yang tepat dan cepat juga berperan penting dalam mencegah terjadinya fatalitas. Cedera dapat menjadi semakin parah dan berpotensi menyebabkan kematian/fatalitas apabila tidak ditangani dengan tepat. Oleh karena itu, pengetahuan dan keterampilan P3K yang memadai sangat diperlukan agar penolong dapat memberikan pertolongan awal secara tepat dan cepat, serta agar mencegah kondisi korban semakin parah.
Selain memahami cara memberikan pertolongan, kesiapsiagaan P3K juga mencakup pengetahuan mengenai pihak yang harus dihubungi saat terjadi keadaan darurat. Masyarakat perlu mengetahui pihak yang harus dihubungi ketika terjadi kondisi darurat, seperti layanan darurat 112 atau layanan ambulans, sehingga bantuan dari pihak yang berwenang dapat segera datang dan diberikan.
Nah, Sobat Safety, kecelakaan listrik bukanlah hal yang bisa kita sepelekan. Mengidentifikasi bahaya, mematuhi SOP pemutusan sumber listrik, hingga membekali diri dengan pemahaman P3K adalah langkah nyata yang wajib diterapkan demi terciptanya lingkungan kerja yang aman dan sehat. Ingat, keselamatan kerja bukanlah sekadar aturan, melainkan tanggung jawab kita bersama untuk memastikan semua orang bisa pulang ke rumah dengan selamat.
Stay Safe and Stay Alert!
REFERENSI
CENELEC. (2023). Operation of electrical installations—Part 1: General requirements (BS EN 50110-1:2023). European Committee for Electrotechnical Standardization.
Cholil, A. A., Santoso, S., Syahrial, T. R., Sinulingga, E. C., & Nasution, R. H. (2020). Penerapan metode HIRADC sebagai upaya pencegahan risiko kecelakaan kerja pada divisi operasi pembangkit listrik tenaga gas uap. Jurnal Bisnis & Manajemen, 20(2), 41–64.
International Electrotechnical Commission. (2014). Live working—Voltage detectors—Part 3: Two-pole low-voltage type (IEC Standard No. 61243-3:2014). https://iec.ch
Occupational Safety and Health Administration. (2002). Controlling electrical hazards (OSHA 3075). U.S. Department of Labor.
Watiningsih, T., Sudaryanto, E., & Wahjudi, D. (2024). Bahaya listrik dan sistem pengamannya di Desa Seliling, Kec. Alian, Kab. Kebumen. WIKUACITYA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(1), 218–221.
Wijaya, F., Darmawan, A., Puspitasari, M. D., & Wibowo, A. P. (2022). Sosialisasi keamanan dan keselamatan dalam penggunaan listrik di PPI Madiun. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Semangat Nyata untuk Mengabdi (JKPM Senyum), 2(1), 25–30.
View more articles
Learn actionable strategies, proven workflows, and tips from experts to help your product thrive.



